AIR: BAHTERA KEBIJAKSANAAN

•January 4, 2010 • Leave a Comment

AIR: BAHTERA KEBIJAKSANAAN

oleh Hendra Kaprisma

 

Saevis tranquillus in undis

‘ketenangan di tengah ombak yang ganas’

 

Jika tak rajin sholat, pandai-pandailah berenang.” Satir, begitulah kesan yang tampak dari sepenggal kalimat dari kisah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Kalimat tersebut diucapkan Ikal ketika menanggapi kisah Nabi Nuh—sebuah kisah yang tak pernah habis dimakan zaman yang terus berubah. Kisah tersebut mengangkat mitos mengenai homo diluvii testis ‘manusia yang menjadi saksi air bah.’ Konstelasi penceritaan Nabi Nuh menghadirkan gugusan cakrawala pemaknaan yang dinamis.

Berdasarkan Alkitab Perjanjian Lama, Nuh adalah keturunan langsung dari Lamekh. Nama Nuh dalam bahasa Ibrani mengandung arti keringanan. Menurut pernyataan Lamekh, “Anak ini akan memberi keringanan pada waktu kita bekerja keras mengolah tanah yang dikutuk Tuhan.” Namun, berdasarkan Al-Qur’an, nama Nuh  yang sebenarnya adalah Shakirin. Nuh adalah anak dari Malik bin Saleh bin Idris. Suatu ketika Allah hendak memusnahkan semua makhluk yang berbuat jahat dengan mendatangkan banjir besar. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk membuat sebuah bahtera yang terbuat dari kayu gofir (berdasarkan Alkitab) atau pokok kayu zamrud (berdasarkan Al-Qur-an).

Setelah pembuatan bahtera selesai, Nuh segera memerintahkan umatnya yang beriman untuk masuk ke dalam bahtera. Anak Nuh yang terkecil (berdasarkan Tafsir Al-Qur’an dari Departemen Agama, nama anak Nuh itu disebut sebagai Kan’an) tidak bersedia ikut serta masuk ke dalam bahtera. Ketika datang bencana air bah, anak Nuh tersebut terseret air bah hingga menjadi korban. Tidak seorang pun mampu menyelamatkan diri dari bencana banjir air bah, kecuali Nuh dan umatnya yang ada di dalam bahtera. Istri Nuh—yang termasuk orang kafir dan berkhianat (Surat At-Tahrim 6:10)—pun ikut binasa bersama semua kaum yang durhaka dan kafir. Seperti halnya dikisahkan dalam Perjanjian Lama (Yehezkiel 14:14), “Sekalipun Nuh, Daniel, dan Ayub tinggal di tempat itu, maka kebaikan mereka bertiga saja yang dapat menyelamatkan nyawa mereka sendiri.”

Lebih jauh lagi, kisah Nabi Nuh tersebut hadir mewarnai dunia puisi Indonesia. Hanya Satu (1937) karya Amir Hamzah, Kapal Nuh (1957) dan Nuh (1972) karya Subagio Sastrowardojo, Nuh (1978) karya Sutardji Calzoum Bachri, Perahu Kertas (1982) dan Pokok Kayu (2000) karya Sapardi Djoko Damono, Balada Nabi Nuh (1994) karya Taufiq Ismail, Numpang Perahu Nuh (1996) karya Dorothea Rosa Herliany, Nuh (1998) karya Goenawan Mohamad, dan Bahtera Nuh (1999) karya A.D. Anggono, semua itu merupakan gugusan sajak-sajak Nuh dan kenabian yang membentuk suatu konstelasi. Berdasarkan penelusuran intertekstualitas, genetika teks kisah Nabi Nuh tersebut tidak terlepas dari kitab suci, Alkitab dan Al-Qur’an.

Julia Kristeva mengatakan bahwa setiap teks itu merupakan mozaik, kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks lain. Prinsip intertekstualitas Kristeva mengandaikan teks lain sebagai kepingan-kepingan yang berserakan dan kemudian diambil (diserap), serta ditransformasikan berdasarkan rasa keindahan sang sastrawan. Hal itulah yang menjadikan suatu teks merupakan “kesatuan semiotik”, menurut Michael Riffaterre dalam Semiotics of Poetry. Dengan demikian, kehadiran Nuh dalam khazanah sastra Indonesia menunjukkan pluralistik dinamika pemaknaan yang mengacu kepada diskursus kenabian. Hal tersebut merupakan wujud nyata kreativitas sastrawan Indonesia.

Melalui kisah Nabi Nuh, tersirat suatu pesan filosofis mengenai manusia dan alam. Pada hakikatnya, hidup ini adalah mencari arkhê (asas atau prinsip) alam semesta. Prinsip tersebut seperti air. Menurut Thales (625—545 SM) dari Miletus, semuanya berasal dari air dan semuanya kembali lagi menjadi air. Hal itu mengindikasikan bahwa air merupakan sumber kehidupan.

Air dapat memberikan kehidupan kepada manusia dan dapat pula membinasakannya. Bayangkan, tetesan air yang terus menerus dapat menghancurkan batu yang demikian kerasnya. Seperti halnya dalam kisah Nabi Nuh, derasnya arus air dapat membinasakan suatu kaum. Paradoks tersebut seperti pedang bermata dua. Air dapat memberikan dampak positif dan negatif kepada manusia. Air dapat menjadi penenang kehidupan dan juga prahara. Kondisi tersebut, mau tidak mau, mempengaruhi sinergisitas alam semesta.

Alam kini dianggap tidak bersahabat lagi dengan manusia. Lihat saja berbagai bencana yang terus menggunjang ibu pertiwi kita, seperti tsunami, banjir, tanah longsor, kapal karam, dan lumpur Lapindo. Bencana tersebut tidak terlepas dari konteks air. Kurangnya kesadaran akan pentingnya alam sebagai tempat berlindung merupakan salah satu sebab terjadinya bencana. Eksploitasi alam secara besar-besaran, kian menambah parah kondisi ibu pertiwi. Bumi yang tidak dapat berkata pun marah, diberikannya bencana sebagai tanda amarah.

Bumi memanas, lautan meninggi, dan daratan bergerak. Kejadian tersebut merupakan bukti rusaknya keseimbangan tatanan kehidupan. Barangkali, manusia baru akan sadar apabila alam menghukum mereka dengan bencana. Ketika kisah air bah pada masa Nabi Nuh kembali terulang, manusia tinggal memilih, ingin belajar berenang atau mulai memperbaiki pola kehidupan yang ramah lingkungan.

(PendarPena; BeritaMusi)

MANUVER KE “KIRI” DENGAN SUKHOI

•January 4, 2010 • 1 Comment

MANUVER KE “KIRI” DENGAN SUKHOI

oleh Hendra Kaprisma

 

Proletarii vsex stran, soedinjajtes’!

Workers of all countries, unite!

‘Proletar seluruh negeri, bersatulah!’

 

Pada Perang Dunia II, Uni Soviet merupakan tandingan bagi Adolf Hitler (1889—1945) yang tidak dapat “dilirik sebelah mata.” Peperangan antara Jerman dengan negeri komunis itu pecah saat Jerman menginvasi Uni Soviet awal tahun 1941 dengan Operasi Barbosa. Pesawat tempur yang menjadi andalan Uni Soviet meliputi produk Lavochkin La-5, LaGG-3, MiG seri satu sampai tiga, dan Yakovlev Yak-9 yang terkenal ringan dan mudah dikendalikan.

Setelah PD II usai, Uni Soviet mengalami penguatan otoritas yang cukup berarti. Peranan penting Uni Soviet pasca PD II adalah keikutsertaannya mendirikan PBB pada tahun 1945 bersama kekuatan anti-Fasis lainnya. Namun, “kemesraan” hubungan negara-negara yang tergabung dalam koalisi anti-Fasisme itu tidak bertahan lama. Pada tahun 1946, Iosif Vissarionovič Stalin (1879—1953) menuduh Inggris dan Amerika Serikat melancarkan kebijakan-kebijakan internasional yang agresif. Sistem perpolitikan internasional pun terbelah dalam dua blok besar, yakni Blok Barat yang dikomandoi oleh Amerika Serikat dan Inggris dan Blok Timur oleh Uni Soviet. Konfrontasi dua sistem kekuatan tersebut dikenal dengan istilah Perang Dingin—yang ditandai dengan adu kekuatan, perlombaan senjata, dan ancaman perang nuklir.

Kekuatan Besar Menghantui Indonesia

Aliansi NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) yang dibentuk Amerika Serikat dan sekutunya memicu Uni Soviet membentuk SEV (Dewan Kerjasama Ekonomi Negara-negara Sosialis) pada tahun 1949. Untuk mengimbangi kekuatan NATO tersebut, Uni Soviet kemudian membentuk Pakta Warsawa pada tahun 1955. Selain itu, Nikita Sergeevič Xruščёv (1894—1971) mencanangkan kebijakan ko-eksistensi damai dalam kaitannya dengan NATO. A. Fahrurodji dalam Rusia Baru Menuju Demokrasi (2005: 164) menyatakan bahwa kebijakan tersebut memungkinkan perbaikan hubungan dengan negara-negara Eropa Barat.

Tidak hanya untuk Eropa Barat, kebijakan ko-eksistensi damai juga berdampak kepada hubungan bilateral Indonesia-Uni Soviet. Dukungan terhadap kebijakan tersebut terlihat dalam kunjungan Presiden Soekarno (1901—1970) ke Uni Soviet pada tahun 1956 selama 14 hari—atas undangan Uni Soviet. Indonesia mendukung kebijakan ko-eksistensi damai sebagai landasan hubungan bilateral kedua negara. Sebenarnya, secara resmi hubungan kedua negara tersebut sudah dimulai sejak diakuinya kedaulatan Republik Indonesia oleh Uni Soviet pada 26 Januari 1950. Dukungan riil Uni Soviet terhadap Indonesia juga terlihat dalam Sidang I DK PBB pada 7 Februari 1946. Di dalam sidang tersebut, Uni Soviet—yang merupakan salah satu Anggota Tetap DK PBB—mengangkat permasalahan Indonesia menjadi fokus perhatian dunia internasional. Sebelumnya, Belanda dan Inggris membentuk opini bahwa masalah Indonesia hanyalah masalah dalam negeri Kerajaan Belanda.

Selain dukungan dalam tataran diplomatik, Uni Soviet juga memberikan dukungan kepada Indonesia dalam tataran militer. Ketika Operasi Pembebasan Irian Barat, utusan Soekarno pergi ke Uni Soviet untuk mendapatkan dukungan militer. Hal itu mendapat sambutan baik oleh Moskow. Hasilnya, kekuatan Angkatan Laut Indonesia meningkat lima kali lipat—pada waktu itu terkuat nomor dua di Asia setelah RRC—dan Angkatan Udara memiliki 160 pesawat tempur—yang menempatkan kekuatan udara Indonesia terkuat di Asia Tenggara. Menurut KBRI Moskow dalam Seminar Sejarah 50 Tahun Hubungan Indonesia-Rusia (2000: 107—108), semua perlengkapan militer senilai USD 600 juta tersebut dibeli dengan syarat pembayaran yang lunak.

Perjalanan hubungan Indonesia-Uni Soviet mengalami pasang-surut seiring kebijakan politik nasional yang dipengaruhi oleh peta politik internasional. Peristiwa G30S tahun 1965 menyisakan trauma berkepanjangan bagi bangsa Indonesia dan menempatkan hubungan kedua negara pada titik terendah. Kebijakan Indonesia selama Orde Baru menjadikan trauma historis-ideologis sebagai garis pembatas hubungan kedua negara. Trauma tersebut perlahan mengikis sejak dicanangkannya kebijakan perestroika ‘restrukturisasi’ dan glasnost ‘keterbukaan’ oleh Mixail Sergeevič Gorbačёv (1931— ) pada Kongres Partai Komunis Uni Soviet XXVII tahun 1986. Kebijakan tersebut membuat Indonesia mulai mengkaji ulang kebuntuan hubungan yang terjadi. Puncaknya, Presiden Soeharto (1921—2008) berkunjung ke Uni Soviet selama 6 hari (7—12 September 1989) untuk bertemu dengan Gorbačёv.

Pasca Orde Baru, Indonesia menunjukkan niatnya untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia. Hal itu terlihat dari kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri (1947— ) ke Rusia (Federasi Rusia sudah diproklamirkan pada 12 Juni 1990) pada tahun 2003 untuk merealisasikan rencana pembelian peralatan militer yang telah digagas di akhir periode pemerintahan Orde Baru. Pemerintahan Megawati membeli 4 pesawat tempur Sukhoi (2 unit Su-27 Flanker dan 2 unit Su-30KI) dan 2 helikopter Mi-35 dengan cara imbal beli, ditukar dengan komoditas dari Indonesia.

Sukhoi: Solusi atau Permasalahan Baru?

Sukhoi adalah perusahaan pembuat pesawat tempur militer Rusia. Perusahaan tersebut didirikan oleh Pavel Osipovič Suxoj (1895—1975) pada tahun 1939 dengan nama Biro Desain Sukhoi atau dikenal dengan OKB-51, sekarang dikenal dengan nama Sukhoi Corporation. Pemerintah Rusia sudah mengoperasikan berbagai seri seperti Su-24, Su-25, Su-27, Su-30, dan Su-33. Lebih dari 2000 pesawat sudah diekspor ke luar Rusia, salah satunya yaitu Indonesia. Pembelian 4 Pesawat Sukhoi jenis Su–27 Flanker dan Su–30KI serta 2 Helikopter Mi–35 buatan Rusia itu berawal dari kunjungan Presiden Megawati Soekarnoputri ke sejumlah negara Eropa, termasuk Rusia. Pembelian pesawat tersebut dilakukan karena sejumlah pesawat tempur Indonesia sudah tidak layak terbang. Pesawat tempur yang dinilai sudah tidak layak itu adalah jenis Hawk buatan 1942–1943—akibat keterbatasan suku cadang, sebagai konsekuensi dari embargo militer Amerika Serikat dan Inggris terhadap sejumlah peralatan TNI AU.

Selain itu, pemerintah—khususnya TNI—memang sudah berencana melengkapi jumlah pesawat tempur, terutama pesawat Sukhoi, minimal 1 skuadron (16 pesawat) untuk dapat mewujudkan kekuatan udara yang riil. Hal tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan keutuhan wilayah nusantara (Indonesia). Namun, bukan hanya itu saja alasan pemerintah dalam pembelian pesawat Sukhoi (yang pembayarannya melalui imbal dagang berupa CPO (Crude Palm Oil) dan karet), melainkan agar terjalinnya hubungan baik antar dua negara sehingga tidak timbul permusuhan. Itu menunjukkan bahwa Indonesia mampu bekerjasama atau menjalin hubungan baik dengan negara lain. Menurut Prem Kumar Nair dalam Asian Defence Journal (2003: 80), Indonesia pada dasarnya memang membutuhkan pesawat tempur Sukhoi karena memenuhi kriteria “cost-efficiency.”

Pesawat Su-27 Flanker—yang dibeli oleh Indonesia—dirancang pada tahun 1970-an sebagai respon Angkatan Bersenjata Uni Soviet terhadap superfighter F-15 Eagle. Sosoknya cukup besar dengan lebar 14,5 meter dan panjang 21 meter. Keberadaan Su-27 Flanker pertama kali diketahui melalui satelit mata-mata Amerika Serikat pada tahun 1977 ketika sedang parkir di pusat uji Ramenskoye. Pesawat itu diberi kode Ram-K dan menjadi pesawat multi-misi yang tangguh. Itu sebabnya ketika Indonesia memesan Su-30KI (varian Su-27) sebagai pengganti F-16 yang dibatalkan pemerintah Amerika Serikat, Barat kemudian bereaksi keras. Pesawat tersebut mempunyai kemampuan manuverabilitas yang besar. Dengan radar penjejak target yang khas dan persenjataan berat yang dimiliki, Su-27 Flanker merupakan ancaman potensial bagi Barat.

Ketakutan Barat terhadap reaksi Indonesia yang dianggap “berpaling” ke kubu Timur bukanlah tanpa alasan. Hal tersebut disebabkan Indonesia memiliki wilayah yang strategis. Indonesia sudah sejak lama menjadi target sasaran dalam perseteruan dua kekuatan besar itu. Kondisi ekonomi dan sosio-politik bangsa yang tidak menentu, turut memperkeruh situasi. Pembelian Sukhoi yang dilakukan oleh Indonesia disinyalir penuh intrik, mulai dari proses pembelian dan kualitas pesawat hingga sistem pembayaran. Namun, di sisi lain pembelian tersebut merupakan langkah tepat guna memperkuat pertahanan dan keamanan wilayah nusantara. Isu-isu korupsi yang dilancarkan dianggap sebagai suatu strategi untuk menghentikan pembelanjaan negara dalam memperkuat bidang kemiliteran. Padahal, sudah semestinya Indonesia memiliki skuadron pesawat tempur yang memadai, mengingat luasnya wilayah nusantara. Lihat saja negara tetangga yang memiliki luas wilayah yang lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia, tetapi justru memiliki skuadron pesawat tempur yang lebih besar dan memadai. Dengan begitu, stabilitas pertahanan dan keamanan Indonesia jelas rentan akan ancaman dan bahaya.

Pengalihan pembelanjaan Indonesia—yang pada Orde Baru lebih condong ke Barat, tetapi sekarang sudah mulai melihat ke Timur—dalam hal persenjataan Angkatan Udara dianggap sebagai manuver politik. Walaupun Perang Dingin sudah tidak terlihat secara jelas, namun ketegangan dua kekuatan besar—yaitu Barat dan Timur—tetap berlanjut. Unjuk kekuatan tempur seakan menjadi ajang perlombaan dalam menghimpun suatu persekutuan. Kemajuan teknologi militer yang diharapkan dapat melindungi perdamaian internasional, justru menjadi teror. Perdamaian internasional seakan hanyalah kamuflase dari tirani yang “mabuk” akan otoritarianisme dan totalitarianisme. Dahulu Vladimir Il’ič Lenin (1870—1924) mencari dukungan massa dengan semboyan “roti dan perdamaian,’ namun untuk saat ini tampaknya semboyan yang efektif untuk mencari dukungan massa adalah “senjata dan perdamaian.”

(PendarPena, Juli 2008)

PARADIGMA CINTA

•February 28, 2009 • 1 Comment

PARADIGMA CINTA

oleh Hendra Kaprisma

“I want to love you simply,
in words not spoken:
tinder to the flame which transforms it to ash”
(Sapardi Djoko Damono, “I Want”, Before Dawn)

Sederhana yang sebenarnya adalah kompleks, begitulah cinta. Datang dan pergi tanpa diduga. Kerap kali tak pernah mengetuk pintu untuk hadir. Terkadang, banyak yang tak sadar bahwa cinta telah hadir dan baru tersadar ketika telah ditinggalkan. Seperti merpati yang jinak, ingin ditangkap, namun tak ingin disakiti. Cinta hadir mewarnai konstelasi pencarian jati diri manusia. Eksistensi cinta “mengada” dengan berbagai cara yang unik. Pengalaman keseharian, seperti tatapan mata, diskusi, khayalan, perenungan, semua itu dapat membentuk gugus makna cinta. Cinta berkembang dari waktu ke waktu. Dinamis, penuh misteri, dan multimakna yang kemudian memenuhi ruang simbolik cakrawala historis pemaknaan.

Paradigma cinta memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Cinta dalam bahasa Latin mempunyai istilah amor dan caritas. Dalam istilah Yunani disebut sebagai philia, eros, dan agape. Philia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatan. Amor dan eros adalah jenis cinta berdasarkan keinginan. Caritas dan agape merupakan tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri. Dalam Theogony Hesiod, Eros merupakan salah satu dari tiga kelompok dewa, dua lainnya adalah Chaos (Dewa Kekacauan) dan Earth (Dewa Bumi). Makna dari eros yang disebut Hesiod terletak pada kekuatan eros yang merupakan lawan dari akal. Perbincangan yang lebih kompleks dapat kita lihat melalui pandangan Plotinus (204—270). Dia membedakan cinta menjadi tiga, yakni cinta kepada Tuhan, cinta sebagai setan, dan cinta sebagai hasrat. Plotinus mengadopsi skala keindahan yang menjadi garis besar dari Symposium karya Plato (427—347 SM). Ide kompleks yang “rumit” tersebut melahirkan Neoplatonisme Renaissans.

Pemaknaan akan cinta pun tak berhenti sampai di situ, Arthur Schopenhauer (1788—1860) dalam Metaphysics of Sexual Love menunjukkan bahwa para penyair dan novelis telah mengenal sisi jahat dari mencintai. Cinta menggiring seseorang untuk bunuh diri, kegilaan, dan pengorbanan yang ekstrim. Schopenhauer mendeklarasikan bahwa segala bentuk cinta berakar pada seksualitas. Pengaruh dari Schopenhauer dapat dilihat melalui pemikiran Sigmund Freud (1856—1939). Freud menamakan kehendak untuk hidup sebagai libido dan mengaitkan hal tersebut kepada kematian. Libido merupakan istilah untuk hasrat yang digeneralisasikan menjadi bagian terminologi psikodinamik.

Pemikiran tentang cinta dalam dunia psikologi terus bermunculan, Erich Pinchas Fromm (1900—1980) adalah contoh tokoh yang mendominasi. Dalam The Art of Loving (1956), Fromm memaparkan bahwa cinta bukanlah suatu perasaan yang “mudah” untuk dituruti. Segala upaya untuk meraih cinta akan mengalami kegagalan apabila tidak disertai dengan pengembangan totalitas kepribadian secara aktif demi tercapainya orientasi produktif. Kepuasan dalam cinta individual tidak akan diperoleh tanpa adanya kemampuan untuk mencintai sesama. Cinta adalah nilai mutlak yang harus dimiliki untuk keluar dari kemelut keterasingan. Fromm menyebutnya dengan “Cinta Produktif”, sebuah cinta yang memberi ruang kebebasan tanpa adanya penindasan dengan alasan cinta itu sendiri.

Demikianlah, cinta mengalir dan hadir mewarnai setiap sisi kehidupan manusia. Cinta “mengada”, berkembang, dan tumbuh tanpa harus dijadual. Sebab, cinta bukanlah matematika dan bukan juga suatu industri. Seperti kata Gibrān Khalīl Gibrān (1883—1931), “apabila cinta memanggilmu, ikutlah dengannya, meski jalan yang akan kalian tempuh terjal dan berliku”. Cinta yang lebih mulia adalah obat bagi penantian dalam kesendirian, seperti yang dikatakan Jalaluddin Rumi (1207—1273), “Allah tidak akan menciptakan sesuatu itu sendirian tanpa pasangannya, yaitu persahabatan”. Cinta telah turun dari surga dalam berbagai bentuk dan rupa, tetapi hanya untuk satu tujuan, yakni “Sang Terkasih”. Cinta tidak memiliki atau dimiliki karena cinta telah cukup untuk cinta.

(PendarPena, Februari 2009)

Penantian

•April 24, 2006 • Leave a Comment

Ketegangan bercampur gembira
Lelah badan terbayarkan
oleh indahnya pertemuan
Lubang-lubang kekosongan
mulai terisi
Sedikit namun banyak arti
Wanita tak bisa lepas
dari diri
Bukan sekedar rasa
tapi penantian………..

“Indah benar rasanya hari,
bila seseorang yang dinanti
hadir menghiasi cakrawala hati.
Bukan waktu masalahnya,
tapi diri yang tak bernyali.”

24 April 2006, 23.07

Mukadimah

•April 22, 2006 • Leave a Comment

Hitam di atas putih
Untaian kata tertuang
Kekosongan terisi
Bukan sekedar kegalauan
kesedihan
kebahagiaan
Tapi satu rangkaian

Kuakui sekarang
Aku bukan hanya milikku
Tapi aku untuk semua

Bukan Beban!!!
Tapi Pengabdian…

Hapuskan dosa
kesalahan
Yang sering kuperbuat
Walau hancur badan ini
Aku tetap bertahan
Kobarkan api semangat
Tak peduli, walau tak dihiraukan

Bohong…….
Percayalah, itu bukan kebohongan
Kubuktikan, bukan agar kau percaya
Tapi agar terjadi perubahan.

22 April 2006, 21.50

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.